Beranda > Ekonomi > KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN

KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN

Gambar

Ketenagakerjaan di Indonesia sangat rumit, permasalahan tidak berimbangnya kebutuhan angkatan kerja dengan kesempatan kerja sulit untuk di selesaikan. Peningkatan jumlah pengangguran menjadi fokus utama dari tidak terselesaikannya permasalahan ketenagakerjaan.

Tenaga Kerja, adalah bagian dari penduduk dalam usia kerja, baik yang bekerja maupun yang aktif dalam mencari kerja, yang masih dan mampu untuk melakukan pekerjaan. Definisi lain dari tenaga kerja adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa, sejak sensus penduduk 2000 dan sesuai dengan ketentuan internasional.  (Sumber: Data Statistik Indonesia).

Selama ini kita memandang bahwa orang yang bekerja itu adalah mereka yang berseragam, mereka yang memiliki kantor, mereka yang bekerja pada instansi atau lembaga tertentu. Bila tenaga kerja dilihat dari seragam, kantor, lembaga baik formal maupun non formal, lantas apakah mereka yang memiliki penghasilan diluar dari lembaga adalah pengangguran?

Menganggur/Pengangguran, orang yang tidak mempunyai pekerjaan dalam kurun waktu seminggu sebelum pendataan dan sedang berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran dibagi ke dalam beberapa bagian.

  1. Pengangguran terbuka (Open Unemployment), pengangguran yang benar-benar tidak atau belum bekerja
  2. Setengah menganggur, (Under Unemployment) adalah pekerja yang tidak menggunakan tenaganya untuk bekerja secara penuh
  3. Pengangguran terselubung (Disguissed Unemloymnent) Pekerja yang nenurut peraturan harus bekerja secara penuh.

Disemua Negara baik yang maju ataupun berkembang, pengangguran merupakan masalah sulit untuk dicari jalan keluarnya. Karena perlu dicermati lebih dulu penyebab timbulnya pengangguran. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya pengangguran:


  • Ketidak berhasilan sektor Industri

Akibat pola investasi yang cenderung padat modal,industri-industri padat karya sangat jarang,padahal padat karya sangat besar kemungkinannya untuk menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan industri padat modal.

  •  Perkembangan Teknologi

Teknologi tinggi memerlukan pekerja-pekerja terdididk dan trampil sedangkan kebanyakan pekerja tidak memiliki keterampilan yang memadai.Akibatnya pekerja tidak bisa diserap secara maksinal oleh lapangan kerja.

  • Tingkat Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang,semakin besar harapan pada jenis pekerjaan yang aman. Orang yang berpendidikan cenderung bekerja pada perusahaan besar daripada membuka usaha sendiri.

  • Situasi Perekonomian

Ekonomi yang krisis cenderung menyebabkan banyak pengangguran,hal ini dapat dibuktikan dengan melihat kasus krisis ekonomi di Indonesia, menciptakan pengangguran 15,4 juta orang.

Bila kita berandai-andai, seandainya negara kita dapat memperkecil tingkat pengangguran hingga seminim mungkin, akibatnya negara kita telah terbebas dari situasi perekonomian yang sulit. Berarti, pengangguran adalah masalah yang sangat berpengaruh terhadap tingkat perekonomian suatu negara. Lalu, siapa yang harus disalahkan atas besarnya tingkat pengangguran di Indonesia? Pemerintah? Atau masyarakatnya sendiri?

Kembali lagi kepada tenaga kerja di Indonesia. Bila anggapan pemerintah dan masyarakat umumnya tenaga kerja adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga baik formal atau non formal, bukankah itu memperluas arti pengangguran? Berarti pedagang bakso, pembuat kerajinan, pelayanan jasa transportasi semacam angkot adalah penganguran? Bukankah mereka juga memiliki penghasilan?

Sekarang bila kita ganti kata tenaga kerja dan pengangguran menjadi yang berpenghasilan dan tidak berpenghasilan. Kita dapat memperluas arti dari orang yang berpenghasilan, tidak semua orang dapat bekerja pada lembaga formal atau non formal, namun mereka yang tidak bekerja pada suatu lembaga juga dapat memiliki penghasilan sebagai wirausaha.

Pekerja (employe) dan wirausaha (self employe) masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, namun keduanya sama-sama memiliki penghasilan.

Kelebihan Pekerja (employe) salah satunya memiliki penghasilan tetap setiap bulannya, namun kelebihan tersebut bisa juga sebagai kekurangan, karena, pekerjaan ringan atau berat, penghasilannya tetap, kecuali bagi mereka yang mendapat reward dari pemimpin. Sedangkan kekurangannya, mereka berada dalam perintah atasan, mengalami pemecatan, sulit untuk menambah penghasilan karena sudah ada aturannya.

Kelebihan dari wirausaha (self employe) mereka tidak ada yang memerintah, tetap saja kelebihan tersebut bisa menjadi kelemahan juga, karena tidak ada pemimpin, bila mereka berleha-leha, resikonya tidak mendapat penghasilan. Kelebihan lainnya, bila mereka pintar mencari celah, berinovasi, pandai memanfaatkan pasar, bukan tidak mungkin penghasilanpun bisa diatas seorang direktur perusahaan, sebaliknya bila tidak pandai berinovasi, tidak bisa memanfaatkan pasar, penghasilanpun hanya akan pas-pasan.

Bila tenaga kerja dan pengangguran diganti dengan yang berpenghasilan dan tidak berpenghasilan, tentu kita dapat memperkecil jumlah pengangguran (tidak bekerja dan tidak berpenghasilan). Bila tingkat pengangguran menipis, akan berpengaruh besar terhadap tingkat perekonomian di Indonesia.

  1. Belum ada komentar.
  1. Agustus 3, 2012 pukul 2:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: